Baterai LFP vs Nikel, Manakah yang Lebih Baik?

Baterai LFP vs Nikel, Manakah yang Lebih Baik?

Pembahasan soal Baterai LFP (Lithium Ferro Phosphate) yang digunakan untuk kendaraan listrik sempat menjadi topik hangat di debat cawapres lalu. Baterai LFP disebut lebih ramah lingkungan dan secara ekonomi lebih hemat dibandingkan baterai dengan menggunakan bahan baku Nikel atau biasa disebut NMC (Nickel Manganese Cobalt). Sebenarnya baterai manakah yang lebih baik?

Peminat LFP Naik Sejak 2018

Berdasarkan riset dari International Energy Agency (IEA), penggunaan baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) untuk kendaraan listrik menguat sejak 2018-2022 sebanyak 20%, sedangkan untuk baterai dengan nikel tinggi justru turun dari 78% menjadi 66%. Hal ini terjadi karena secara ekonomi baterai LFP dinilai lebih hemat dibandingkan NMC, terutama dalam produksi kendaraan listrik yang entry level.

Komposisi yang Minim Bahan Beracun

Baterai LFP dianggap lebih ramah lingkungan karena penggunaan bahan yang tidak beracun dibanding dengan NMC. Bahan-bahan yang digunakan oleh baterai LFP saat ini jauh lebih mudah didapatkan karena menggunakan bahan yang lebih umum tersedia. Menurut First Phosphate, komposisi dari baterai LFP adalah 61% fosfat (PO4), 35% besi (Fe), dan 4% lithium (Li). 

 

Baca Juga

Asah Pengetahuan dan Keterampilan Melalui Program Future Skills for University

 

Siklus Hidup Baterai Lebih Lama

Baterai LFP mampu diisi ulang hingga 3.000 kali sebelum performanya menurun dan bisa mencapai 6.000 kali jika perawatannya baik. Hal ini menjadikan LFP lebih sustain dan awet dibandingkan NMC yang life time-nya sekitar 800 kali isi, sehingga penggunaan LFP bisa mengurangi limbah. Selain itu, dari sisi ekonomi juga lebih hemat bagi customer.

Baterai LFP juga dinilai jauh lebih aman karena apabila terkena guncangan, suhu tinggi, dan tekanan berat maka baterai tidak berpotensi untuk meledak.

Tetap Harus Mempertimbangkan Dampak Penambangan

Jika dilihat sejauh ini, baterai LFP memang terlihat lebih baik dibandingkan NMC, namun dibalik keunggulannya tetap ada hal yang harus diperhatikan dalam produksi baterai LFP, terutama dalam proses penambangan. 

Penambangan dan pengolahan besi fosfat tetap dapat menimbulkan dampak ekologis lokal. Salah satu dampak dari penambangan fosfat secara berlebihan adalah terganggunya sumber air dan adanya ancaman kekeringan. Hal ini terjadi karena area bebatuan fosfat biasanya berada di area sumber perairan. Jika Indonesia ingin memaksimalkan penggunaan baterai LFP, maka diperlukan regulasi serta aturan yang ketat dalam proses penambangan bahan bakunya.

 

Referensi

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2024/01/22/baterai-lfp-vs-baterai-nikel-lebih-bagus-mana